Friday, March 3, 2017

Beberapa Faidah Tabligh Akbar Stabilitas Keamanan Negara Bersama Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr [ part 2 ]

| Belum Ada Komentar
Beberapa Faidah Tabligh Akbar Stabilitas Keamanan Negara Bersama Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr

(Bag. Kedua)


Setelah beliau menjelaskan urgensi keamanan dan keharusan seorang muslim untuk menjaganya, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan tentang fitnah dan bagaimana seharusnya seorang muslim menghadapi hal tersebut. Berikut rangkumannya;

1⃣Fitnah (kegoncangan dan kekacauan) merupakan lawan daripada keamanan. Sebagai seorang muslim yang sejati hendaknya *BERHATI-HATI* dari perkara yang dapat memicu fitnah.
2⃣Seorang muslim hendaknya *BIJAK* dalam menghadapi fitnah, sehingga *tidak tergesa-gesa* dalam menyebarkan setiap berita yang ia dengar terlebih jika hal itu berkaitan dengan stabilitas dan keamanan kaum muslimin secara umum. Berkata Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu,
لا تكونوا عُجُلاً مذاييع بُذُرًا، فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحًا مُمْلِحًا – وفي بعض الطرق:مُكْلِحًا - وأمورًا متماحِلةً رُدُحًا
_Janganlah kalian menjadi orang yang tergesa-gesa penyebar berita (keburukan) tidak mampu menjaga (lisan), karena sesungguhnya ada dampak buruk berupa kekacauan dan kegoncangan yang menyeluruh di belakangnya. Dalam riwayat yang lain disebutkan; fitnah yang besar dan perkara yang membuat orang jengkel._ *(Atsar Riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Sanadnya dishohihkan oleh Syaikh Albani)*
Dan juga perkataan Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu,
إِنَّهَا سَتَكُونُ هَنَاتٌ، وَأُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ ، فَعَلَيْك بِالتُّؤَدَةِ، فَتَكُونُ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُونَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ
_Sesungguhnya nanti akan ada keburukan (kerusakan), dan perkara-perkara yang rancu maka wajib atasmu perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa). Maka sungguh jika engkau menjadi pengikut kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi penyeru keburukan._ *(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya dan Ibnu Batthah dalan Al Ibanah)*
Maka dari dua atsar ini dapat kita simpulkan, bahwa termasuk *sebab terbesar tersebarnya fitnah adalah sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.*
3⃣Kewaspadaan terhadap fitnah bukan hanya menghindarinya saja, namun juga *berusaha untuk tidak menjadi penyebab terjadinya.* Karena betapa banyak orang yang duduk manis di rumah saja namun sejatinya dialah pembuat ulah. Ingat Allah Maha Mengetahui dan tidak akan ada yang luput dari pengawasan-Nya.
4⃣Mungkin semuanya akan mengerti bahwa di dalam menghadapi berita yang tersebar diharuskan untuk melihat kebenarannya. Namun banyak yang lupa sebenarnya *kepada siapa seharusnya seseorang mengembalikan kebenaran berita yang tengah menyebar.* Apalagi jika berita tersebut berkaitan dengan kepentingan banyak orang dan keamanan mereka. Mari kita simak firman Allah Ta'ala ,

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
_Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)._
*[An Nisaa': 83]*
*Yang dimaksud dengan Ulul Amri di dalam ayat tersebut adalah para Ulama dan ahli ilmu sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama Tafsir.* Hal ini mengharuskan kita untuk sering kembali dan meminta nasihat sekaligus pengarahan dari ahli ilmu yang memahami permasalahan tersebut dengan baik dan benar. Maka cukuplah musibah yang besar bagi orang yang tidak mau meminta kejelasan kepada para Ulama dan hanya mencukupkan dirinya sendiri untuk mengukur kebenaran.
5⃣Diantara petunjuk Rasulullah dalam mengahadapi fitnah adalah *menyibukkan diri dengan ibadah, baik yang wajib atupun yang dianjurkan.* Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam,
العِبَادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إليَّ
_Ibadah di saat fitnah seperti berhijrah kepadaku._ *(HR. Muslim dari Ma'qil bin Yassar Radhiyallahu 'Anhu)*
Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah pada saat terjadinya fitnah memiliki pahala yang besar. Kenapa demikian?! Karena kebanyakan manusia tersibukkan dengan fitnah dan tenggelam di dalamnya. Maka orang yang dapat menyibukkan diri dengan ibadah sangat pantas untuk diberi ganjaran yang besar.

Dalam hadits yang lain Rasulullah terjaga dari tidurnya suatu malam dan bersabda,
"أَنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم اسْتَيْقَظَ لَيْلَةً فَقَالَ: سُبْحَانَ الله، مَاذَا أُنْزِلَ الّليْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ؟ يَا رُبّ كَاسِيَةٍ في الدّنْيَا، عَارِيَةٍ في الآخِرَةِ
_Maha Suci Allah. Apa fitnah yang telah terjadi malam ini? Apa yang telah diturunkan dari perbendaharaan (rahmat-rahmat)? Siapa yang membangunkan pemilik ruang-ruang (istri-istri beliau)? Aduhai betapa banyak orang yang berpakaian (bukti kenikmatan) di dunia namun kosong (dari pahala ibadah) di akhirat._ *(HR. Tirmidzi dari Ummu Salamah Radhiyallahu 'Anha)*
Dalam hadits yang kedua ini ada bentuk peringatan dari Rasulullah kepada istri-istri beliau begitu pula kepada orang yang mengetahui hadits ini, kemudian anjuran agar mereka tetap gemar beribadah terlebih di waktu fitnah.
Kemudian juga terdapat perintah untuk membiasakan berdo'a pada waktu malam (sepertiga malam terakhir), karena pada waktu itu doa diijabahi. Sebagaimana sabda Rasulullah,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
_Rabb kita Tabaraka Wa Ta'ala turun setiap malam ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir seraya berkata, "Siapa yang berdo'a kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni."_ *(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)*
6⃣Manusia terbagi menjadi dua golongan.Golongan yang senantiasa diharapkan kebaikannya sehingga manusia akan merasa kehilangan dengan kepergian mereka. Dan golongan yang senantiasa diharapkan kehilangannya, yaitu mereka yang tidak memiliki kebaikan dan menimbulkan keburukan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alihi Wa Sallam,

فَقَالَ : أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ؟ قَالَ : فَسَكَتُوا ، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا ؟ قَالَ : خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

_Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan sebaik-sebaik orang diantara kalian dan orang-orang yang paling buruk diantara kalian? Berkata Abu Hurairah, "Maka para Sahabat diam." Kemudian beliau mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali. Maka berkata seseorang, "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya, sebaliknya seburuk-buruk orang diantara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain tidak merasa aman dari keburukannya."_ *(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)*
Kemudian juga sabda beliau,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

_Sesungguhnya diantara manusia ada (golongan yang menjadi) kunci-kunci kebaikan penutup keburukan, dan sesungguhnya diantara manusia ada (golongan yang menjadi) kunci-kunci keburukan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan melalui dirinya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci keburukan melalui dirinya._ *(HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu dan dihasankan oleh Syaikh Albani)*
7⃣ Keburukan memiliki dua sumber dan dua kesudahan. Hal ini telah Rasulullah Shallallahu 'Alihi Wa Sallam jelaskan dalam do'a yang masyhur yang berbunyi,

اللَّهُمَّ عَالِمَ الغَيْبِ والشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّموَاتِ والأرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ ومَلِيْكَهُ، أشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلاَّ أنْتَ، أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وأنْ أقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أوْ أجُرَّهُ إلَى مُسْلِمٍ

_Ya Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan nampak. Pencipta langit-langit dan bumi. Rabb segala sesuatu dan Pemiliknya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Saya berlindung dari keburukan diri saya, keburukan syaithan dan kesyikirikan. Dan saya berlindung dari keburukan yang menimpa saya atau keburukan yang menimpa orang lain._ *(HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dari Abu Bakr Radhiyallahu 'Anhu)*
Di dalam hadits tersebut disebutkan dua sumber keburukan dan dua kesudahan keburukan. Dua Sumber tersebut ada keburukan diri seseorang dan keburukan syaithan. Dan dua kesudahan keburukan bisa jadi menimpa diri sendiri ataupun orang lain. Maka hendaknya seorang muslim membiasakan diri untuk membaca do'a ini pada waktu pagi dan sore hari serta ketika ia hendak tidur.
8⃣ Bahwasannya keamanan akan terwujud dengan adanya persatuan (jamaah) kaum muslimin dibawah pimpinan seorang penguasa muslim. Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu pernah mengatakan,

أنه لا دينَ إلا بجماعة، ولا جماعة إلا بإمامة ولا إمامة إلا بسمع وطاعة

_Sesungguhnya tidak akan (tegak) agama kecuali dengan jama'ah, dan tidak akan (tegak) jama'ah kecuali dengan imamah (kepemimpinan), dan tidak akan (tegak) kepemimpinan kecuali dengan ketaatan._
Maka keamanan akan terjadi jika ada kerjasama baik antara pemimpin dan rakyatnya. Oleh karena itu setelah Allah Ta'ala menjelaskan kewajiban pemimpin atas rakyatnya, dijelaskan secara langsung kewajiban rakyat kepada pemimpin. Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
_Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat._ *[QS. An Nisaa' : 58]*
Kemudian Allah Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

_Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya._ *[QS. An Nisaa' : 59]*
Rasulullah juga bersabda,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
_Agama adalah nasihat. Kami berkata, "Untuk siapa?" Beliau bersabda, "Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya._ *(HR. Muslim dari Tamim Ad Daary Radhiyallahu 'Anhu)*
Juga hadits,

«ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأُمُورِ، وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ

_Tiga hal yang hati seorang muslim tidak dengki atasnya (ridho dan menerima), yaitu mengikhlaskan anal hanya untuk Allah, menasihati pemimpin, dan berkomitmen bersama jama'ah kaum muslimin_ *(HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu)*
9⃣Pentingnya mensyukuri nikmat keamanan yang telah Allah Ta'ala karuniakan. Sehingga diharapkan nikmat tersebut akan terus ada.
Kemudian beliau mewasiatkan agar mendoakan kebaikan bagi seluruh kaum muslimin dan pemimpin mereka dimana pun mereka berada. Sebagaimana perkataan Imam Al Fudhail bin 'Iyadh Rahimahullah,
لَوْ كَانَتْ لِيْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ

_Jika seandainya aku memiliki do'a yang dikabulkan, tidak akan aku panjatkan kecuali untuk penguasa._

Wallahu A'lam.
Dengan ini telah selesai sedikit ringkasan dari Tabligh Akbar bersama Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr Hafidzahumallahu Ta'ala.
Semoga bermanfaat.
_Disarikan oleh Admin IKLIMB-JAKARTA
@Masjid_Istiqlal pada
Ahad, 29 Jumada Ula 1438 H bertepatan 26 Februari 2017_
Tags : , ,

No comments :

Post a Comment

Terbanyak dikunjungi

Category